Follow by Email

Jumat, 16 Juli 2021

Cara Meningkatkan Minat Berwirausaha bagi Mahasiswa

 Cara Meningkatkan Minat Berwirausaha bagi Mahasiswa

Wirausaha adalah seorang yang berani berusaha secara mandiri dengan mengerahkan segala sumber daya dan upaya meliputi kepandaian mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai lebih tinggi. Di Indonesia sendiri wirausaha sering diminati dari segala usia,  latar belakang dan berbagai status social. Bagi para pelakunya wirausaha adalah  salah satu jalan  keluar  dalam  meningkatkan  perekonomian  dan  taraf  hidup  mereka  menjadi  lebih  baik. Wirausaha biasanya diminati oleh kalangan muda seperti Mahasiwa. Dalam hal ini, mahasiswa adalah  mereka yang dianggap  mampu dalam  mengkreasikan  ide  dan  inovasi  mereka  dalam  suatu  bentuk  usaha  yang menguntungkan.  Mahasiswa  diangap  memiliki  potensi  yang  lebih  banyak  dalam  menciptakan  peluang usaha  dan  menjadikan  usaha  tersebut  sebagai  lapangan  pekerjaan  baru,  sehingga  saat  mereka lulus nantinya tidak perlu lagi repot mencari pekerjaan.

Pentingnya Wirausaha bagi Mahasiswa  

Mahasiswa  disebut  sebagai  agent  of  change  dalam  kehidupan  bermasyarkat  nanti.  Dalam  hubungannya, wirausaha  adalah  salah  satu  bentuk  perubahan  dan  manfaat  dari  adanya  mahasiswa.  Dengan  adanya kegiatan ini yang pelakunya adalah mahasiswa, maka akan merubah status sosial orang disekitar mereka pula. Oleh karena itu, sangat penting bagi mahasiswa menyadari pentingnya berkegiatan berwirausaha sejak  dini.  Mahasiswa  memiliki  ilmu  yang  lebih  dibanding  orang  awam  pada  umumnya,  sehingga diharapkan  mahasiswa  dapat  memberikan  dampak  baik  untuk  kehidupan  sosial  mereka  nanti.  Selain  itu, mahasiswa juga diharapkan dapat mengimplementasikan ilmu mereka ke dalam kehidupan bermasyarakat nanti. Di  fakultas  kami  terdapat  tambahan  kata  binis  yang  seharusnya  mencerminkan  wirausaha  itu  sendiri. Sehingga,  sangat  penting  bagi  mahasiswa menyadari  bahwa  wirausaha  adalah  salah  satu cahaya  terang  bagi  mereka  disaat  sudah  terjun  ke  masyarakat  nanti.  Perlu  bagi  mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah mengetahui pentingnya berwirausaha ini sebagai salah satu pilihan jurusan dan program studi mereka dan sebagai pengabdian mereka kepada masyarakat nantinya.

Menumbuhkan Jiwa Berwirausaha dikalangan Mahasiswa

Semakin maju suatu negara semakin banyak orang yang terdidik, dan banyak pula orang yang menganggur, maka semakin dirasakan pentingnya dunia wirausaha. Pembangunan akan lebih berhasil jika ditunjang oleh wirausahawan yang dapat membuka lapangan kerja karena kemampuan pemerintah sangat terbatas. Oleh sebab itu, wirausaha merupakan potensi pembangunan, baik dalam jumlah maupun dalam mutu wirausaha itu sendiri. Sekarang ini kita menghadapi kenyataan bahwa jumlah wirausahawan Indonesia masih sedikit dan mutunya belum bisa dikatakan hebat, sehingga upaya pembangunan wirausaha di Indonesia merupakan persoalan mendesak bagi suksesnya pembangunan nasional.

Minat berwirausaha perlu dan harus ditumbuhkembangkan di kalangan masyarakat, termasuk mahasiswa karena memiliki manfaat banyak sekali, antara lain menambah daya tampung tenaga kerja, sehingga dapat mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan masyarakat, meningkatkan produktivitas. Dengan menggunakan metode baru, maka wirausaha dapat meningkatkan produktivitasnya. Kemudian meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lowongan pekerjaan. Wirausaha serta usaha kecil memberikan lapangan kerja yang cukup besar sehingga dapat memberi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Menciptakan teknologi baru dan menciptakan produk dan jasa baru. Banyak wirausaha yang memanfaatkan peluang dengan menciptakan produk atau jasa baru. Kalaupun mereka masih mempertahankan produk lama, produk tersebut merupakan produk yang sudah diperbaiki dan mendorong inovasi, meskipun biasanya mereka tidak menciptakan sesuatu yang baru, tetapi mereka dapat mengembangkan metode atau produk yang inovatif.

Salah satu upaya untuk mewujudkan kemandirian dan ketangguhan ekonomi nasional adalah melalui pengembangan, pemantapan sikap, perilaku dan kemampuan serta minat berwirausaha. Dengan berkembangnya minat dan lahirnya wirausaha-wirausaha nasional akan menjadi penggerak roda perekonomian nasional serta memacu pertumbuhan ekonomi nasional yang pada gilirannya akan memperkuat struktur perekonomian nasional. Upaya ini perlu didukung oleh semua kalangan baik unsur pemerintah, masyarakat termasuk mahasiswa maupun dunia usaha secara terarah dan berkesinambungan.

Keberadaan para pengusaha muda juga ditanggapi negatif oleh beberapa kalangan. Mereka beranggapan para mahasiswa wirausaha ini tidak fokus dalam belajar. Mereka takut dengan ketidakfokusan itu membuat mahasiswa terlalu asik berusaha dan melupakan tugas utamanya untuk menuntut ilmu. Akibat selanjutnya adalah nilai yang hancur, waktu kelulusan yang tertunda lama hingga dikeluarkannya mereka dari bangku kuliah karena akumulasi atas keburukan-keburukan di bidang akademik. Ketakutan seperti itu sepertinya tak perlu terjadi apabila mahasiswa wirausaha menyadari peran mereka baik itu sebagai mahasiwa maupun sebagai wirausaha lalu membagi porsi keduanya secara seimbang. Justru geliat dunia usaha oleh mahasiswa yang seperti ini yang perlu dipelihara, karena dengan menjadi wirausaha secara tak langsung mereka telah menjadi pahlawan bangsa karena mengurangi jumlah pengangguran dan pemberdayaaan masyarakat 

Umumnya usaha mahasiswa dapat dikategorikan sebagai usaha mikro dan kecil menengah. Hal itu dicirikan dengan penggunaan modal usaha yang masih relatif kecil untuk menjalankan usaha mereka. Kurangnya modal, keterbatasan dalam akses kredit, masih kurangnya ilmu dan pengalaman untuk bergelut langsung dalam kerasnya dunia bisnis adalah beberapa hal yang kami identifikasi sebagai faktor pengekal tidak berkembangnya usaha mereka. Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda yang akan menggantikan peran wirausahawan dan akan ikut serta dalam memajukan perekonomian Negara, sudah seharusnya kita memulai berwirausaha sejak sekarang agar perekonomian Negara dapat terus berkembang dan berjalan menuju ke arah maju.


Selasa, 06 Juli 2021

Pentingnya Penelitian Ilmiah di Kalangan Mahasiswa || Essay

 PENTINGNYA PENELITIAN ILMIAH DI KALANGAN MAHASISWA


Apa penelitian itu sebenarnya? Penelitian diawali dari rasa ingin tahu terhadap masalah yang kita anggap menarik dan penting untuk diketahui jawabannya. Secara popular penelitian dapat didefinisikan sebagai penyelidikan yang dilakukan secara hati-hati dengan menggunakan metode ilmiah tertentu. Mengapa orang melakukan penelitian? Pada dasarnya orang melakukan penelitian karena ingin mendapatkan “kebenaran” terhadap suatu persoalan atau masalah yang sedang dia selidiki. Dalam mencari kebenaran tersebut kita memerlukan suatu metode ilmiah, karena kita tidak dapat mencari kebenaran tersebut hanya dengan mengandalkan intuisi atau berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya.

            Apakah mahasiswa harus melakukan penelitian? Jawabnya “ya”. Mahasiswa adalah bagian dari proses pendidikan yang mencakup masalah kognitif, attitude dan psikomotorik. Penelitian merupakan salah satu sarana untuk melatih aspek kognitif mahasiswa menjadi semakin tajam. Pada dasarnya pendidikan merupakan sarana pembentukan pola pikir mahasiswa. Tujuan utama pendidikan tinggi, khususnya univeristas adalah membentuk pola pikir yang handal. Universitas diharapkan menghasilkan “orang-orang pandai” yang berwawasan kebangsaan. Jika orang-orang pandai tersebut kelak terjun kemasyarakat, mereka siap menjadi apa saja dan bekerja di bidang apa saja. Hanya dengan memberikan sedikit pengarahan dan latihan, mereka akan mampu mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Itulah sebabnya pendidikan di Univeritas harus sebagian besar mengajarkan teori karena lulusan univeritas dipersiapkan menjadi pemikir bukan “tukang”. Jika Kelak lulusan mahasiswa Unikom diharapkan menjadi ahli yang menguasai bidang ilmunya masing-masing dan menguasai teknologi informasi dari sisi praktik dan teori. Mahasiswa tidak hanya dapat menggunakan Internet secara praktik, tetapi mengetahui Internet dari sisi ilmu pengetahuan teoritis.

            Penelitian adalah salah satu cara menjadikan mahasiswa menjadi seorang pemikir yang berwawasan luas. Tujuan penelitian adalah untuk mengubah kesimpulan yang telah diterima secara umum, maupun mengubah pendapat-pendapat dengan adanya aplikasi baru pada pendapat tersebut. Suatu penelitian dengan menggunakan metode ilmiah dinamakan sebagai penelitian ilmiah.  Dengan melakukan penelitian, mahasiswa dilatih untuk bepikir obyektif, sistematis, dan memahami persoalan secara lebih mendalam serta berpikir kedepan. Melalui penelitian mahasiswa dilatih untuk berikir kritis dan peka terhadap masalah yang dihadapi sesuai dengan bidangnya. Melakukan penelitian tidak semudah dibicarakan secara teori, oleh karena itu mahasiswa harus melatih sedini mungkin. Semakin banyak latihan maka pemahaman metode dan kepekaan terhadap suatu masalah akan semakin tajam. Hasilnya mahasiswa tersebut akan semakin mampu berpikir secara logic, sistematis, kritis dan obyektif. Dalam melakukan penelitian kita juga harus memahami logika berpikir ilmiah, karena pada dasarnya alur berpikir proses penelitian adalah alur berpikir yang logik, yaitu sesuai dengan tahapan-tahapan aturan ilmiah.

            Kemudian, sebelum melakukan penelitian maka  kita harus menemukan masalah apa yang akan kita teliti. Untuk mendapatkan masalah yang akan diteliti, kita memerlukan suatu proses penyempitan gagasan dari masalah yang umum menjadi spesifik. Setelah masalah kita temukan, maka selanjutnya kita menentukan dengan pendekatan apa kita akan melakukan. Penelitian dasar biasanya tidak langsung memberikan informasi yang siap pakai untuk penyelesaian permasalahan akan tetapi lebih menekankan bagi pengembangan model atau teori yang menunjukkan semua variable terkait dalam suatu situasi dan berhipotesis mengenai hubungan di antara variable-variabel tersebut. Oleh karena itu, tidak jarang pemecahan permasalahan baru dapat dicapai lewat pemaduan hasil beberapa penelitian yang berkaitan.

            Seorang peneliti harus memiliki sikap yang khas dan kuat dalam penguasan prosedur dan prinsip-prinsip dalam penelitian. Sika-sikap yang harus dikembangkan seorang peneliti adalah sebagai berikut:

a.       Objektif, Seorag peneliti harus dapat memisahkan antara pendapat pribadi dan fakta yang ada. Untuk menghasilkan penelitian yang baik, seorang peneliti harus bekerja sesuai atas apa yang ada di data yang diperoleh di lapangan dan tidak memasukkan pendapat pribadi yang dapat mengurangi dari keabsahan hasil penelitiannya (tidak boleh subjektif).

b.      Kompeten, Seorang peneliti yang baik memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan penelitian dengan menggunakan metode dan teknik penelitian tertentu

c.       Faktual, Seorang peneliti harus bekerja berdasarkan fakta yang diperoleh, bukan berdasarkan observasi, harapan, atau anggapan yang bersifat abstrak.

            Selain itu, seorang peneliti juga diharapkan memiliki pola pikir yang mendukung tugas-tugas mereka. Cara berpikir yang diharapkan dari seorang peneliti adalah sebagai berikut:

a)      Berpikir Skeptis, Seorang peneliti harus selalu mempertanyakan bukti atau fakta yang dapat mendukung suatu pernyataan (tidak mudah percaya).

b)      Berpikir analisi, Peneliti harus selalu menganalisi setiap pernyataan atau persoalan yang dihadapi.

c)      Berpikir kritis, Mulai dari awal hingga akhir kegiatan, penelitian dilakukan berdasarkan cara-cara yang sudah ditentukan, yaitu prinsip memperoleh ilmu pengetahuan.

            Dalam penelitian ada dua pendekatan, yaitu pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif adalah peneliti akan menggunakan angka-angka sebagai ukuran hasil penelitiannya. Sedangkan pendekatan kualitatif, maka kita tidak menggunakan angka sebagai ukuran hasil kajiannya. Setelah penentuan pendekatan, maka peneliti harus menentukan metode penelitiannya. Jika kita menggunakan pendekatan kuantitatif, gunakan metode survei, observasi terstruktur atau melakukan eksperimen. Jika kita menggunakan pendekatan kualitatif, gunakan observasi terlibat langsung atau observasi. Pada umumnya pendekatan kuanitatif dengan metode survei menggunakan kuesioner untuk mendapatkan datanya; sedang pendekatan kualitatif menggunakan interview. Jika data sudah terkumpul maka kita memerlukan instrumen untuk menganalisa data. Penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif memerlukan alat analisa statistic yang sudah baku; sedang pendekatan kualitatif memerlukan alat analisa berdasarkan hubungan semantis. 

Adapun etika yang harus ditaati dalam melakukan sebuah penelitian. Peneliti harus melakukan etika tersebut agar penelitian tersebut dianggap berhasil. Dalam hal ini sebagai peneliti harus menaati etika dalam melakukan sebuah penelitian, etika tersebut adalah sebagai berikut:

a.       Seorang peneliti harus jujur dan committed terhadap masalah yang diteliti, dia tidak boleh memalsu data karena kepentingan-kepentingan tertentu.

b.      Peneliti harus selalu menyebutkan sumber-sumber dari mana dia mendapatkan data / informasi atau rujukan-rujukan yang dia gunakan. Hal ini terkait dengan hak cipta intelektua

c.       Komunikasikan hasil penelitian hanya kepada pihak-pihak yang terkait. Sebaiknya hasil penelitian menyangkut hal-hal yang sensitive tidak dipublikasikan secara umum.

d.      Peneliti harus melindungi / menyembunyikan data-data responden yang digunakan sebagai obyek penelitian. Responden harus tetap anonim, artinya hanya informasinya saja yang disebutkan tetapi identitasnya tidak boleh dibeberkan.




DAFTAR PUSTAKA

 

Sarwono, J. (2014). Metode Riset Online: Teori, Praktik, dan Pembuatan Apliaksi. Elex Media     Komputindo..

Siyoto, S. (2015). Dasar Metodologi Penelitian Dr. Sandu Siyoto, SKM, M. Kes M. Ali Sodik,        MA 1. Dasar Metodologi Penelitian. Literasi Media Publishing.

Selasa, 25 Mei 2021

Tinjauan Hukum Terhadap Petasan || Essay

 TINJAUAN HUKUM TERHADAP PETASAN


Petasan sangat identik dengan sebuah kegiatan atau kebudayaan seperti pada perayaan tahun baru, lebaran, ataupun kegiatan lainnya, karena pada dasarnya fungsi petasan sendiri adalah untuk memeriahkan suatu kegiatan. Petasan sendiri biasa disebut dengan mercon. Apa sih yang dimaksud dengan petasan sebenarnya? Petasan atau mercon adalah sebuah peledak berupa bubuk yang dikemas dalam beberapa jenis kertas dan mempunyai sumbu untuk diberi api dalam menggunakannya (Tina Asmarawati, 2014: 133).

            Bagaimana sih petasan menurut sudut pandang hukum di Indonesia? Apakah ada undang-undang yang mengaturnya? Tidak banyak orang tau menahu mengenai hukum atau aturan yang mengatur tentang petasan. Hal tersebut ditandai dengan masih banyak pula korban-korban akibat dari petasan itu sendiri. Di indonesia sendiri, petasan sudah menjadi suatu hal yang biasa kita jumpai ataupun biasa dipakai untuk berlebaran atau pada saat bulan Ramadhan. Petasan sebenarnya termasuk dalam barang yang berarti benda yang dilarang. Sejak zaman Belanda sudah ada aturannya dalam Lembaga Negara (LN) tahun 1940 Nomor 41 tentang Pelaksanaan Undnag-Undang Bunga Api 1939, di mana di antara lain adanya ancaman pidana kurungan tiga bulan dan denda Rp 7.500 apabila melanggar ketentuan “membuat, menjual, menyimpan, mengangkut bunga api dan petasan yang tidak sesuai standar pembuatan” kemudian pemerintah mengeluarkan berbagai macam peraturan, diantaranya UU Darurat 1951 yang ancamannya mencapai 20 tahun penjara atau hukuman mati (Tina Asmarawati, 2014: 142). Perbedaan antara kembang api yang diizinkan dan yang dilarang diatur dalam Undang-Undang Bunga Api tahun 1932 dan Perkap. Nomor 2 tahun 2008 tentang pengawasan, pengendalian, dan pengamanan bahan peledak komersial. Contoh petasan yang diperbolehkan di dalam peraturan yaitu seperti petasan kecil yang ukurannya tidak melebihi panjangnya 2 inci sepanjang untuk suatu acara.

            Berdasarkan menurut beberapa pedagang petasan yang berjualan, mereka belum pernah dihukum. Maka masih banyak yang bisa kita temui di tepi-tepi jalan ataupun di tempat warung yang menjual petasan. Apalagi mendekati perayaan lebaran, tahun baru, hajatan, ataupun lainnya. Pada waktu itulah mudah untuk menemukan penjual petasan. Menurut beberapa penjual, razia petasan juga dilakukan, tentunya untuk menertibkan penjual-penjual yang melanggar peraturan, seperti biasanya dilakukan di malam takbiran. Demikian pula pendapat beberapa menegak hukum.

            Penegakan hukum mengenai petasan haruslah di tegaskan lagi. Walaupun memainkan petasan mendatangkan kesenangan bagi pelakunya, namun dibalik perilaku tersebut terdapat hal-hal negatif yang dapat ditimbulkannya (Mauliza Setiawan, 2016: 199). Mengingat banyak korban yang berjatuhan akibat petasan, karena petasan ini sampai membuat seseorang meninggal akibat penyalahgunaan petasan tersebut. Seperti ledakan petasan rakitan yang terjadi di sebuah rumah di Kediri yang berujung kematian. Adapula petasan jumbo yang meledak di Pekalongan yang berujung 1 anak tewas dan 4 luka parah.

            Hambatan dalam penerapan aturan hukum penggunaan kembang api ini adalah masih adanya masyarakat yang tidak mau tahu tentang aturan penggunaan dan peredaran bunga api. Adanya kebutuhan ekonomi yang harus dipenuhi, sehingga berjualan bunga api atau petasan tersebut. Budaya masyarakat yang sudah turun temurun menggunakan bunga api atau dalam beberapa perayaan besar seperti pada Bulan Ramadhan dan perayaan malam pergantian tahun. Kurangnya sosialisasi dan edukasi terhadap masyarakat tentang pemberlakuan aturan hukum terkait bunga api (Muhammad Sidik, 2020: 10).

            Berdasar uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa :

Petasan adalah peledak berupa bubuk mesiu yang kemudian dikemas di berbagai macam kertas dan memiliki sumbu untuk penggunaannya dan Petasan sangat identik dengan hari perayaan.

Petasan sebenarnya termasuk dalam barang yang berarti benda yang dilarang. Sejak zaman Belanda sudah ada aturannya dalam Lembaga Negara (LN) tahun 1940 Nomor 41 tentang Pelaksanaan Undnag-Undang Bunga Api 1939. Kemudian pemerintah mengeluarkan berbagai macam peraturan, diantaranya UU Darurat 1951 yang ancamannya mencapai 20 tahun penjara atau Hukuman mati. Perbedaan antara kembang api yang diizinkan dan yang dilarang diatur dalam Undang-Undang Bunga Api tahun 1932 dan Perkap. Nomor 2 tahun 2008

Berdasarkan pengakuan para pedagang petasan, mereka belum pernah dihukum. Maka masih banyak pedagang mercon yang dapat kita jumpai, meskipun demikian razia petasan masih sering dilakukan oleh petugas untuk menertibkan pedagang.

Penegak hukum mengenai petasan harusnya bisa lebih tegas lagi, meskipun petasan dapat menyenangkan pelaku petasan juga bisa jadi bumerang tersendiri untuk sang pelaku. Hambatan dalam penerapan aturan hukum penggunaan kembang api ini adalah masih adanya masyarakat yang tidak mau tahu tentang aturan penggunaan dan peredaran bunga api. Adanya kebutuhan ekonomi yang harus dipenuhi, sehingga berjualan bunga api atau petasan tersebut.

Referensi:

Sidik, Muhammad. (2020). Penegakan Hukum Tindak Pidana Penyalahgunaan Bunga Api Dan Petasan Di Wilayah Hukum Polres Banjar (Doctoral dissertation, Universitas Islam Kalimantan MAB).

SETIAWAN, Mauliza., Adi Herman. (2016). Upaya Kepolisian Dalam Melakukan Penegakan Hukum Terhadap Peredaran Petasan Ilegal (Penelitian Di Wilayah Hukum Polisi Resort Kota Banda Aceh). ETD Unsyiah.

Asmarawati, Tina. (2014). Sosiologi Hukum: Petasan Ditinjau dari Perspektif Hukum dan Kebudayaan. Yogyakarta: Deepublish.


Jumat, 16 April 2021

Menciptakan Islam Moderat dengan Konsep Islam Nusantara || Essay

Menciptakan Islam Moderat dengan Konsep Islam Nusantara




Masyarakat Asia Tenggara memang memiliki tradisi yang sangat beragam. Negara yang paling banyak memiliki keberagaman antara lain Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Oleh karena itu, sepanjang tahun 1930 dan 1940 di barat, ketiga Negara ini terutama Indonesia dipandang sebagai lokus klasik dalam pembentukan pluralisme dalam masyarakat.

Pemunculan Islam Nusantara merupakan ciri khas Indonesia, di mana Islam Nusantara ini di nyatakan sebagai agama yang universal, dimanifestasikan dalam ajarannya, yang mencakup hukum agama (fiqh), kepercayaan (tauhid), serta etika (akhlak). Meskipun Islam Nusantara memberikan nuansa baru dalam beragama Islam dengan memasukkan budaya dalam agamanya, namun cara beragama seperti ini tidak menghilangkan kemurnian ajaran Islam itu sendiri, dengan menjadikan al Quran dan Hadits sebagai pedoman dan tuntunan dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Pluralitas masyarakat Indonesia yang terdiri dari multi aspek, baik suku, ras, maupun agama secara nyata telah memberikan kontribusi terhadap dinamika problem masyarakat Indonesia.Tradisi Islam Nusantara sebagai bagian dari tradisi di Indonesia mengandung nilai-nilai multikultural yang bisa dijadikan basis pendidikan multikultural bagi masyarakat(Choirul Mahfud, 2006. Pemeliharaan dan penghargaan terhadap tradisi Islam Nusantara bisa dipastikan juga merupakan penghargaan terhadap nilai-nilai multikultural. Hal inilah yang menjadikan tradisi Islam Nusantara patut dijadikan sebagai basis pendidikan multikultural di masyarakat. 

Problematika umat Islam semakina kompleks, tidak hanya menyangkut aspek teologis semata, tetapi sudah menyebar ke berbagai aspek kehidupan, salah satunya aspek politik. Sejarah mencatat bahwa Islam terpecah menjadi beberapa golongan karena berlatar belakang masalah politik. Sementara masalah teologis yang dihadapi oleh umat Islam sekarang adalah benturan antara paham Islam yang beragam, seperti halnya paham Fundamentalisme dan liberalisme.

Moderasi Islam hadir sebagai wacana atau paradigma baru terhadap pemahaman keislaman yang menjunjung tinggi nilai-nilai tasamuh, plural dan ukhuwah, Islam yang mengedepankan persatuan dan kesatuan umat, dan Islam yang membangun peradaban dan kemanusiaan. 

Islam Nusantara lahir sebagai alternatif model pemikiran, pemahaman, dan pengamalan Islam yang moderat, terhindar dari paham fundamentaslime dan liberalisme. Islam Nusantara menawarkan sebuah konsep dan gagasan anti mainstream. Konsep dan gagasan ini diharapakan mampu membangun sebuah keharmonian sosial, budaya, dan agama, serta membangun peradaban dan kemanusian Islam di Indonesia. 

Islam Nusantara : Wujud Moderasi Islam di Indonesia

Islam Nusantara adalah Islam yang lahir dan tumbuh dalam balutan tradisi dan budaya Indonesia, Islam yang damai, ramah dan toleran. Abdurrahman Wahid dengan gagasannya “Pribumisasi Islam” menggambarkan Islam Nusantara sebagai ajaran normatif yang berasal dari Tuhan, kemudian diakulturasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing. Islam Nusantara berdiri di antara dua paham yang bersebrangan yaitu liberalisme dan fundamentalisme. 

Islam Nusantara memiliki lima karakter khusus yang membedakannya dengan Islam Arab ataupun Islam lain di dunia. Lima karakter tersebut yaitu pertama, kontekstual, yaitu Islam dipahami sebagai ajaran yang bisa disesuaikan dengan keadaan zaman. Kedua, toleran. Islam Nusantara mengakui segala bentuk ajaran Islam yang ada di Indonesia tanpa membeda-bedakannya. Ketiga, menghargai tradisi. Islam di Indonesia merupakan hasil akulturasi antara budaya lokal dengan ajaran Islam. Islam tidak mengahapus budaya lokal, namun memodifikasinya menjadi budaya yang Islami. Keempat, Progresif. Yaitu suatu pemikiran yang menganggap kemajuan zaman sebagai suatu hal yang baik untuk mengembangkan ajaran Islam dan berdialog dengan tradisi pemikiran orang lain. kelima, membebaskan. Islam adalah sebuah ajaran yang mampu menjawab problem-problem dalam kehidupan masyarakat. Islam tidak membeda-bedakan manusia. Dalam kacamata Islam, manusia dipandang sama, yaitu sebagai makhluk Tuhan. Islam Nusantara adalah cerminan dari ajaran Islam yang membebaskan pemeluknya untuk mencari hukum dan jalan hidup, menaati atau tidak, dengan catatan semua pilihan ada konsekuensinya masing-masing.

Moderasi Islam lahir sebagai solusi anti mainstream Islam yang akhir-akhir ini kian menghawatirkan dan membahayakan akidah umat Islam, baik di Indonesia maupun Dunia. Rasulullah saw. pernah bersabda “bahwa umat Islam akan terpecah ke dalam 73 golongan dan hanya ada satu yang akan selamat, yaitu ahlusunnah wal jama’ah.” Hadis Rasulullah saw. tersebut sudah terbukti kebenarannya dengan terpecahnya umat Islam ke dalam beberapa golongan yang kita kenal dengan aliran Kalam. 

Ada dua aliran Kalam yang sangat mendominasi pemikiran Islam dari dulu hingga sekarang, yaitu Mu’tazilah11 dan Asy’ariyah1. Mu’tazilah merupakan aliran kalam terbesar dan tertua dalam sejarah Islam.  Sementara itu aliran Asy’ariyah lahir sebagai reaksi dari aliran Mu’tazilah. Nama Asy’ariyah diambil dari nama pendirinya yaitu Abu al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari yang lahir di Basrah pada tahun 260 Hijriyah. 

Ide Islam Nusantara bukan untuk mengubah doktrin Islam. Ia hanya ingin mencari cara bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Upaya itu dalam ushul fiqh disebut dengan ijtihad tathbiqi, yaitu ijtihad untuk menerapkan hukum. Sebab, Islam nusantara tak banyak bergerak pada aspek ijtihad istinbathi, yaitu ijtihad untuk menciptakan hukum. Imam al-syathibi membedakan ijtihad tathbiqhi dan ijtihad istinbathi. Menurutnya, jika ijtihad istinbathi tercurah pada bagaimana menciptakan hukum (insya’ al-hukum), maka ijtihad tathbiqi berfokus pada aspek penerapan hukum (tathbiq wa tanzil al-hukm) (Ghazali, 2016:106). 

Agama adalah ciptaan Allah SWT yang konstan. Esensinya adalah tauhid uluhiyah dan mengesakannya dalam beribadah, mensyukuri nikmat-nikmat dengan melakukan amal saleh, serta beriman kepada kebangkitan, hisab dan balasan atas amal setelah kehidupan di dunia ini. Karena Allah SWT adalah Esa dan karena agama adalah ketetapan Illahi maka agama Allah SWT adalah satu. Diawali dari risalah-risalah agama sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad saw. Hakikat agama ini diperkuat oleh al-Qur’an, kitab suci yang menyempurnakan agama yang datang dengan syari’at penutup dan universal, serta elemen yang menyempurnakan bangunan yang berdiri di atas akidah yang sama, yang dikenal oleh seluruh risalah langit yang dikirim kepada umat manusia. 

Dari konteks di atas dapat dilihat meskipun Islam Nusantara mengedepankan budaya atau memberikan nuansa baru dalam beragama Islam. Namun, sama sekali tidak merubah kemurnian ajaran Islam itu sendiri, tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam beragama. Justru dengan Islam Nusantara, penganut ajaran Islam terkesan tidak kaku dan lebih humble. Dan Islam nusantara maka bisa ditelusuri bahwa Islam Nusantara merupakan agama yang ramah dengan budaya. Orang ber-Islam secara kaffah namun tidak meninggalkan tradisi-tradisi kebudayaannya, justru tradisi atau kebudayaannyalah yang membuat mereka semakin kuat dan percaya dengan agama yang diyakininya.




Daftar Pustaka

 Agis, Ahmad Mubarok & Diaz Gandara Rustam. "ISLAM NUSANTARA: MODERASI ISLAM DI INDONESIA."Journal of Islamic Studies and Humanities. 2018. UIN Sunan Kalijaga: Yogyakarta.  Vol. 3, No. 2. hlm. 29-33

Hanafi, Ahmada. Theology Islam. Jakarta: Cv. Bulan Bintang, 1982

Hidayati, Wiji. Ilmu Kalam : Pengertian, Sejarah, Dan Aliran-Alirannya (Yogyakarta: Program Studi Manajemen Pendidikan Islam UIN Yogyakarta, 2017), 134.

Jazimah, Hanum Puji Astuti. "NUSANTARA: SEBUAH ARGUMENTASI BERAGAMA DALAM BINGKAI KULTURAL." Interdisciplinary Journal of Communication. 2017. IAIN Salatiga: Salatiga. Volume 2, No.1,  hlm. 155-157.

Rahmat, M. Imdadun. Islam Pribumi : Mendialogkan Agama Membaca Realitas. Jakarta: Erlangga, 2007.

Sahal, Akhmad, and Munawar Aziz. Islam Nusantara : Dari Ushul Fiqih Hingga Konsep Historis. Bandung: Mizan, 2015.


Senin, 15 Maret 2021

Mahasiswa Berprestasi dan Organisasi || Essay

Mahasiswa Berprestasi dan Organisasi


Seorang Mahasiswa ketika belajar dikampus salah satu tujuannya yakni pastilah meraih prestasi setinggi mungkin. Seperti dalam hal akademiknya, seorang mahasiswa pasti memperjuangkan nilai agar pada setiap mata kuliahnya dapat memperoleh nilai yang tinggi. Tidak dapat di pungkiri memperoleh nilai yang bagus adalah tujuan seorang mahasiswa, mahasiswa rela belajar mati- matian demi mendapatkan hasil ujian yang bagus, ada juga mahasiswa yang merasa kurang pandai dalam hal akademik namun berusaha dekat dengan dosen karena menurutnya hal itu bisa membuatnya mendapat nilai bagus. Berprestasi di kampus dan di luar kampus tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang mahasiswa, karena dengan prestasi sejuta beasiswa telah menanti, karena dengan prestasi seorang mahasiswa akan lebih dikenal para dosen dari pada mahasiswa yang biasa- biasa saja.

Menjadi mahasiswa yang berprestasi memang membanggakan, tujuan utama kuliah adalah belajar di kelas, mengerjakan tugas dan meghasilkan IPK yang baik. Tujuan tersebut tidak salah, namun perlu di ingat ada hal lain yang juga sama penting yaitu bagaimana cara bersosialisasi dengan orang lain. Sebagai seorang mahasiswa, kita harus terbiasa memiliki rasa sosial yang tinggi karena hal tersebut sangat di butuhkan nantinya dalam dunia kerja. Maka dari itu mengikuti kegiatan di luar kampus sangat penting untuk melatih bersosialisasi dengan orang lain agar terbiasa dan mengetahui bagaimana cara menghadapi orang lain dengan karakter masing-masing. Mengikuti kegiatan di luar kampus salah satunya adalah dengan berorganisasi.

“mahasiswa yang berorganisasi jarang yang berprestasi”

Pernyataan tersebut seolah- olah mengatakan bahwa organisasi adalah penghambat prestasi, mahasiswa yang aktif organisasi dianggap kurang pandai dalam hal akademik. Mahasiswa yang aktif organisasi dianggap lulus tidak tepat waktu dan banyak anggapan lainnya. Padahal anggapan tersebut belum tentu benar adanya, nyatanya tak sedikit mahasiswa yang aktif berorganisasi lulus tepat waktu, tak sedikit mahasiswa yang aktif berorganisasi namun tetap berprestasi dalam hal akademik maupun non akademik. Tetap berprestasi atau tidak itu tergantung pada diri kita sendiri, tergantung bagaimana kita mampu membagi waktu antara kuliah dan organisasi, jangan karena organisasi kita melupakan tugas utama kita sebagai mahasiswa yaitu belajar.

            Mengikuti organisasi kemahasiswaan bukan berarti kita harus meninggalkan segala tugas yang ada di perkuliahan, akan tetapi dengan mengikuti organisasi kemahasiswaan kita bisa mendapatkan softskill, sehingga kita bisa mengabungkan hard skill yang kita dapatkan di perkuliahan tanpa mengabaikan tugas-tugas yang ada di kegiatan perkuliahan tersebut. Dengan mengikuti organisasi kemahasiswaan kita bisa mendapat banyak sekali manfaat, hal tersebut bisa menjadi pengalaman tersendiri dalam menjalani studi dan bekal dalam mencari suatu pekerjaan nantinya.

Sebagai mahasiswa kita dituntut untuk memiliki kemampuan complex problem solving, critical thinking, creativity, people management, coordinating with other, emotion intelligence, judgment and decision making, service orientation, negotiaton, dan cognitiveflexibility. Kemampuan tersebut bisa didapatkan apabila mahasiswa bisa mengikuti ruang organisasi sehingga dapat meningkatkan prestasi akademik. Mahasiswa yang mengikuti organisasi harus bisa membiasakan diri menjadi aktivis didalam maupun diluar kampus. Artinya ketika di ruang lingkup perkuliahan sebagai mahasiswa kita harus dapat bersaing dengan mahasiswa lainnya dalam hal akademis, dan ketika diluar kampus mahasiswa harus mampu mengadvokasi dan bisa menjawab persoalan-persoalan yang ada di masyarakat dan sebagai ajang untuk mengembangkan kemampuan.

Biasanya ada pertanyaan kepada mahasiswa yang berorganisasi, “ kuliah yang utama atau organisasi”. Pilihannya tergantung kepada personalia mahasiswa. Menjadikan organisasi sebagai pilihan utama adalah hal yang sangat salah, akibatnya kuliah akan sedikit kurang maksimal. Padahal tujuan kita masuk universitas adalah untuk kuliah, jadi jalan tengahnya yaitu jadikan organisasi yang kita ikuti sebagai pendukung untuk kita berprestasi dalam hal akademik dan sebagai pengembangan diri. Jika didata dengan detail, banyak mahasiswa yang mengikuti organisasi kemahasiswaan tetap memiliki prestasi akademis. Mereka bisa menjadi pemenang suatu perlombaan, memiliki IPK yang tinggi dan prestasi-prestasi lainnya. Hal ini dapat disimpulkan bahwa organisasi dan prestasi akademik bisa berjalan beriringan.

Sebagai mahasiswa kita harus memiliki prestasi akademis maupun organisasi. Jangan sampai kita lulus hanya membawa secarik kertas bertuliskan ijazah.  Ada pesan substansial bahwa IPK tinggi bisa membawa kita ke wawancara akan tetapi kemampuan kepemimpinan, problem solving, analytical thingking dan kolaborasi bisa membawa kita ke masa depan yang cerah.

Minggu, 14 Februari 2021

Kepemimpinan || Essay

KEPEMIMPINAN

Kepemimpinan  merupakan perihal memimpin dan cara memimpin. Dan dalam arti luas kepemimpinan memiliki definisi sebagai suatu proses mempengaruhi, memberi contoh, dalam upaya mencapai tujuan bersama, dan pemimpin atau objek dari kepemimpinan dalam arti luas dapat diartikan sebagai seseoarang yang mampu berdiri dengan mental yang kuat dalam mempengaruhi orang banyak dengan cara memimpin yang sistematis sehingga tujuan bersama dapat tercapai. Namun sebelum membahas lebih jauh mengenai cara kerja pemimpin, hendaklah kita mengetahui hal yang utama atau yang harus ada dalam diri seorang pemimpin.

Kepemimpinan yang paling utama adalah memimpin diri sindiri. Salah satu bentuk kepemimpinan terhadap diri sendiri adalah penegakkan disiplin pada diri sendiri. Dalam menegakkan kedisiplinan diri seseorang harus berani mengakui kesalahan diri sendiri, bukan mencari-cari kesalahan orang lain tetapi kesalahan sendiri ditutupi dan selalu mencari pembenaran agar lebih mudah memaafkan diri sendiri. Padahal ketika hanya memaafkan kesalahan tanpa melakukan perubahan tidak akan menjadikan sesuatu menjadi lebih baik. Ketika seseorang sudah mampu memimpin dirinya sendiri berarti dirinya telah dapat mengembangkan kemampuan untuk mengelola hubungan dengan orang lain. Salah satu manfaat ketika berhasil menjadi pemimpin bagi diri sendiri adalah mampu menghadapi segala resiko yang menghadang dalam menggapai mimpi dan berani melangkah. Jadi kepemimpinan lebih baik dimulai dari diri sendiri. Memang tidak mudah tetapi harus mengupayakannya.

Menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah, seseorang harus memiliki tekad yang kuat dan tanggung jawab untuk menjadi pemimpin yang baik. Seorang pemimpin harus memiliki rasa tanggung jawab yang besar bukan hanya kepada anggota tetapi juga kepada Tuhan Yang Maha Esa, mungkin tangung jawab yang besar  tidak cukup untuk menjadi pemimpin tetapi peminmpin yang baik harus jujur dan transparan dalam semua hal karna bisa menumbuhkan benih kepercayaan dan komitmen dari anggota nya dan juga  pemimpin harus meperlakukan  setiap orang dengan bermartabat dan rasa hormat karna sejati nya  kita sama-sama manusia dan harus saling menghormati  ,dengan begitu seorang pemimpin akan disegani dan dihormati oleh para anggota. Pemimpin harus pandai menempatkan diri, bisa bersosialisasi dan mudah bergaul. Seorang pemimpin juga harus mau mendengarkan pendapat siapapun, harus siap meneriman  kritik dan masukan dari anggota nya karna untuk kebaikan bersma ,serta seorang pemimpin harus mendahulukan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi.

Dalam sebuah kepemimpinan tidak jarang terjadi pro dan kontra. Oleh karena itu seorang pemimpin harus berhati-hati dalam segala tindakannya, sebab ketika seorang pemimpin melakukan keputusan yang kurang tepat maka akan berdampak keapada kepemimpinannyaserta anggotanya. Tidak jarang seorang pemimpin terkadang bertindak secara semena-mena karena merasa dirinyha memiliki posisi yang tinggi, hingga terkadang pendapat  anggotanya tidak dihiraukan dan hanya mementingkan pendapat pribadi, dan akan sangat berdampak kepada anggota yg di pimpin.

Lalu bagaimana kita memilih  pemimpin yang baik?

Belajar untuk cermat, sebagai seorang anggota kita harus cermat dalam mengambil keputusan memilih pemimpin, jangan melihat apakah ia berasal dari organisasi yang sama dengan kita, atau karena teman dekat, atau juga karena pendapat orang lain. Ketika memilih seorang pemimpin kita harus benar-benar cermat, karena pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan yang unggul akan membawa kesejahteraan untuk anggotanya. Dan jika seoseorang ingin menjadi pemimpin hendaknya ia melatih diri untuk selalu bersikap bijaksana, adil, jujur, peduli sosial, profesionalitas, dan sikap karakter lainnya agar dapat mengembangkan jiwa kepemimpinan. Selain itu pemimpin harus belajar untuk mengasah kemampuan dan pengetahuannya untuk menunjang kepemimpinannya. Sebab jika seorang pemimpin gagal memimpin, anggota kepemimpinannyalah yang menjadi korban.


Cara Meningkatkan Minat Berwirausaha bagi Mahasiswa

 Cara Meningkatkan Minat Berwirausaha bagi Mahasiswa Wirausaha adalah seorang yang berani berusaha secara mandiri dengan mengerahkan segala ...